e-Newsletter December 2008


Wishing you a Merry Christmas 2008
and a Happy New Year 2009!

Please click on the image below to read the Newsletter




2009 Calendar

Purchase a calendar and you will be part of our work in supporting the education and health development for these children who live in poverty in Flores, in the eastern region of Indonesia.

You could have a calendar with Indonesian public holidays, or with Australian public holidays.
Please email us today to make your order.


The smile on their happy faces might fade away, if not completely go away, without your support.
And the best thing is, the photos in this calendar will remind you that you have done something great for them.

Below are some facts about the area where they live:

In East Nusa Tenggara, eastern Indonesia, the incidence of poverty is severe, with 80 per cent of the population (approx. 4.2 million) living below the poverty line. Flores and Timor are the poorest islands in this region. (UNDP)

The secondary school enrollment rate in Flores is only 39 per cent, where children included in the remaining percentage can not afford education.

A vast majority of children aged 3 to 6 years lack access to developmental and early learning activities, particularly those children from isolated, rural areas in Indonesia (UNICEF)

Around 13 million children in Indonesia are malnourished (World Food Programme)

What happens – or doesn’t happen – to children in the earliest years of their lives is of critical importance, both to their immediate well-being and to their future. (UNICEF)

The root cause of malnutrition and poor health condition is poverty, and the root cause of poverty is lack of knowledge and education. (unknown)

Let's share the joy of Christmas and New Year

........Hmmmmm....Thinking Of What You Could Do This Christmas???.........

You could help us spread the joy of Christmas by:

- collecting your UNUSED BOOKS (children books, literature, and novels),
PRE-LOVED TOYS, or OLD WEARABLE CLOTHES


- contacting one of us


- having the books, toys, or clothes ready to be picked up (we can arrange pick-ups in Jakarta; please contact us for other cities)



All collected items will be sent to Maumere, Flores, East Nusa Tenggara, Indonesia.

Don't forget to pencil on your diary the LAST DAY for COLLECTION !
- 30th of November 2008 -



For pick-up arrangement, please contact:
Margaretha - etha_dreams@yahoo.com (+62 817800362)
Debby - sweet_purplegirl_mg@yahoo.com (+62 81806899902)
Benny - scalarae@gmail.com (+62 811878570)

Newsletter Ribbon of Love November 2008

(Please click on the above image to read)

Sekilas info - langsung dari Maumere

Hallo teman-teman donatur semuanya ... apa kabar? ini pertama kalinya saya mencoba mengirimkan email. kebetulan di biara sudah ada internet, meskipun jalannya masih tersendat-sendat seperti oplet tua ...tapi tak apalah. memang ga kayak di Melb. dulu internetnya cepat dan terjamin .... tapi sekali lagi ga apa-apa d. biarpun tersendat-sendat ... tetapi kami tetap bersyukur karena akhirnya kami punya internet ...

setelah sekian lama ga pernah internetan lagi (alias sudah mulai lupa-lupa), ... nah sekarang saya mau coba-coba lagi ... sekalian mau curhat kepada teman-teman donatur sekalian tentang isi hati yang terpendam selama ini.

pertama-tama puji syukur kepada Tuhan karena ternyata, lewat kebaikan teman-teman semua ... Kebaikan Tuhan terus mengalir bagaikan anak sungai yang jernih dan sejuk ... dan seperti tetesan anggur baru pada janggutnya Harun yang memberi secercah cahaya harapan bagi segelintir anak-anak yang sekarang sedang dibantu .... saya katakan segelintir karena sesungguhnya masih ada banyak anak yang terpaksa kembali kedapur menjaga tungku bersama mamanya ... atau kesawah menghela kerbau ... melawan terikanya mentari, bermain bersama lumpur supaya pada akhirnya bisa memetik bulir padi buat makan sekeluarga. hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak terpaksa disirnakan oleh karena ketiadaan biaya ...

berikut, saya ingin menginfokan bahwa perkembangan anak-anak PAUD Maria Gunung Karmel yang sekarang berjumlah 42 orang yang aktif hadir setiap hari dari 52 anak yang terdaftar, semuanya menunjukan tanda-tanda kemajuan yang menggembirakan. otak lebih berkembang dan kreatifitasnyapun semakin baik. Begitu juga dengan anak-anak asuh. yang ada di biara semuanya berjumlah 9 anak, yang tinggal diluar biara, baik di rumah retret Karmel maupun dengan orangtuanya, berjumlah 5 anak dan yang sampai saat ini belum datang ke biara karena alasan tertentu 2 orang.

perkembangan pendidikan merekapun, hemat saya memuaskan kecuali Philipus Tola Roga yang masih membutuhkan pendampingan yang lebih baik. Martin sedang menjalani praktek pemasangan instalasi listrik di Makasar, Maria menjalani praktek pembangunan di Ende, Maxi sekarang menjabat sebagai wakil ketua osis dan yang lainnya berkembang menjadi lebih baik secara intelektual.

Terimakasih yang berlimpah kami ucapkan untuk teman-teman donatur semuanya. doa kami selalu dan senantiasa mengiringi hidup dan usaha teman-teman semua. semoga Tuhan selalu menjaga, melindungi dan memberikan rahmat kesehatan, rejeki yang baik dan hati yang selalu diliputi sukacita.

demikianlah sekilas info dari maumere yang sekarang sedang dibakar matahari. info lain akan saya sampaikan pada waktunya ...

SELAMAT BERAKTIVITAS .... TUHAN SELALU BERSAMA TEMAN-TEMAN SEMUA.

Rm. Paskalis Mame, O. Carm

Wajah PAUD Di Bulan Agustus 2008

Baru-baru ini Romo Paskal sesuai janjinya mengirimkan foto-foto yang diambil di PAUD, dalam rangka peringatan kemerdekaan RI. Acara ini sendiri berlangsung 2 hari, tanggal 17 dan 18 Agustus, karena tanggal 18 Agustus ditetapkan sebagai hari libur oleh pemerintah. PAUD mengisi tanggal 17 dengan upacara bendera, dan tanggal 18 dengan mengikuti karnaval di sekitar Maumere






Selain foto-foto upacara dan karnaval, Romo Paskal juga sempat mengambil foto penerima beasiswa yang terpilih untuk bertugas pada perayaan 17-an di Kabupaten. Tery, pengibar bendera di tingkat kabupaten, tampak cantik dengan seragam putih dan kopiah hitamnya. Beberapa penerima beasiswa lainnya juga berpartisipasi dalam karnival yang dilakukan keesokan hari. Semua foto ini dapat dilihat di http://picasaweb.google.com/ribbon.of.love/FestivalKemerdekaan2008#


Selain foto-foto ini, Romo Paskal juga mengirimkan surat berisi ucapan terima kasih kepada seluruh donatur, dan juga menyertakan laporan keuangan Biara dan PAUD. Dalam laporan keuangan ini juga dicatat penerimaan yang diterima dalam bentuk barang.

Perayaan telah selesai, dan semua telah kembali ke aktivitas masing-masing. Akan tetapi donasi kita masih terus diharapkan, sehingga masa depan anak-anak ini bisa terjamin dengan baik. Selamat beraktivitas.....

Penyemangat Kami...

Seperti biasanya, hari ini lagi-lagi adalah tugas saya untuk update dan mengirimkan email ucapan terima kasih kepada teman-teman donatur atas kiriman uang bulanannya.
Dan seperti biasa juga, saya harus melihat daftar nama donatur satu persatu.

Tiba-tiba saya teringat salah satu sms dari teman donatur, yang kebetulan juga teman saya.
Smsnya kira-kira berbunyi, " Kak, aku mau kirim uang lebih mulai depan. Bisa tidak? Sorry ngerepotin."
Dan sms pendek ini, yang mungkin tidak ada artinya untuk pengirimnya, cukup mengharukan.
Mengapa mengharukan?
Saya cukup kenal dan tahu bahwa si donatur ini menyisihkan uang berlebihnya untuk disumbangkan.

Lalu teringat juga saya dengan donatur-donatur lain yang kebetulan adalah kenalan saya juga.
Ada yang masih muda, tapi cukup peduli dengan lingkungan dan keadaan saudara-saudara sekitarnya.
Ada yang mungkin pendapatannya hanya seadanya, tapi kerelaannya untuk menyisihkan sebagian pendapatannya tidak kalah dengan teman-teman yang berlebih.
Ada yang selalu dengan rajinnya mengirimkan dan memastikan kontribusinya tepat waktu.
Ada yang bersemangat tinggi, dan mungkin kadang-kadang lebih antusias dari tim kami sendiri.
Begitu banyak bantuan dan dukungan yang kami dapat selama ini.


Untuk kalian para donatur, mungkin kalian tidak pernah merasa apa yang kalian lakukan adalah hal besar. Tapi satu hal, kalianlah yang selalu memberi semangat kepada kami untuk terus dan terus mengembangkan karya kami ini.

Terima kasih dan teruslah menyemangati kami...

Perjuangan Iki mengecap pendidikan

Iki adalah seorang pemuda dengan otak cemerlang, juga sehat bagi secara fisik maupun psikologis. Ia kini berusia 17 tahun, duduk di kelas 1 SMU di SMA Negeri Maumere, Flores - NTT. Ayah Iki sudah meninggal dunia, sehingga ia lah yang akan menjadi tulang punggung keluarga. Satu-satunya kakak Iki bekerja membantu ibu menenun kain ikat khas Flores selepas lulus SMP. Ibu dan kakak perempuan Iki tinggal di desa yang dapat ditempuh sekitar 40 menit dari kota Maumere dengan mengendarai mobil.

Iki tinggal di Wairklau bersama tante (kakak perempuan ibunya) yang bermata pencaharian berladang, dengan seorang adik sepupu yang bersekolah di tingkat dasar (SD). Sepulang sekolah, Iki selalu menyempatkan diri bekerja membantu tantenya mengolah ladang yang ditanami jagung dan kelapa sawit. Teriknya sinar matahari tidak pernah membuatnya malas ataupun menyerah.

Di samping berbagai tanggung jawabnya di rumah, Iki memiliki kedisiplinan yang tinggi untuk belajar. Kerajinannya ini menjadikan Iki seorang murid yang berprestasi di sekolah. Iki bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, atau seorang biarawan. (Atau seorang biarawan yang juga seorang dokter ? - red) Keduanya merupakan pekerjaan mulia yang juga diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya.

Ketekunan Iki dan semangatnya yang tinggi menjadikan ia layak kita juluki "seorang pejuang tangguh". Untuk mencapai cita-citanya itu, Iki membutuhkan bantuan kita karena penghasilan ibunya tidak mampu memenuhi biaya sekolah seharga Rp 1,2 juta per tahun.


Bersediakah kita mengulurkan tangan untuk membantu anak-anak seperti Iki meraih cita-cita mereka ?

Untuk info selengkapnya, hubungi ribbon.of.love@gmail.com

Romo Paskal: Terima Kasih Teman-teman


Romo Paskal mengirimkan SMS ini ke saya, dan untuk teman-teman semua atas bantuannya selama ini

SATU HARI DI PAUD MARIA GUNUNG KARMEL

Pagi itu, selasa 29 Januari 2008, waktu menunjukkan pk 8.10. Anak-anak seharusnya sudah mulai sekolah pukul 8, namun hanya 15 siswa, dari total 44 siswa, yang hadir. Setelah berkenalan dengan pak Kepala Sekolah, Pak Petrus Ama (yang akrab dipanggil dengan nama Pak Petu), ternyata salah satu masalah pendidikan di Flores (Maumere) adalah kurang sadarnya para orangtua akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka.

Pada saat musim berkebun (musim hujan) seperti sekarang ini, para orangtua sibuk bekerja di ladang. Seringkali karena sibuk bekerja, orang tua tidak lagi memiliki waktu untuk mengantar anak ke sekolah.

Pk 8.30, sekitar 25 murid yang hadir. Pak Petu membunyikan lonceng dan anak-anak dengan tertib berbaris di halaman sekolah. Mereka membentuk 2 barisan, dengan satu anak bernama Trisno memimpin barisan tersebut. Menurut Pak Petu, memang Trisno ini berbakat menjadi ketua kelas, berjiwa seorang pemimpin. Trisno dengan tegas menyiapkan barisan. “bersiap!” “beri hormat!”. Lalu anak-anak lainnya dengan serentak menjawab “seeelamaatt pagiii paaaak!

Masih di dalam barisan, aktivitas pertama hari itu adalah bernyanyi, yang mereka lakukan dengan bersemangat sekali walaupun panas matahari begitu menyengat. Mereka sempat menyanyikan mars PAUD Maria Gunung Karmel, yg inti kata-katanya “kami mau maju”, “kami anak-anak terpadu yang mau berjuang”; dan juga yel-yel mereka seperti “Anak padu! Yes!”. Mereka bisa menyanyikan lebih dari 20 lagu, mulai dari lagu anak-anak yang umum (balonku, topi saya bundar, satu tambah satu, dst), dan juga lagu-lagu yang bahkan kita belum pernah dengar sebelumnya. Sangat mengagumkan!

Kami spontan tertawa geli ketika mendengar mereka menyanyikan lagu potong bebek angsa versi Flores: Potong anjing hitam, masak enak-enak, Kalaulah belajar, jangan malas-malas. Ambillah buku, ambillah pinsil. Mari kita tulis A-I-U-E-O. Brapa huruf hidup, teman-temanku? Lima huruf hidup, A-I-U-E-O”.

Pelajaran yang diberikan kepada anak-anak berbeda dari hari ke hari. Bernyanyi, belajar membaca, atau menggambar, itu semua tergantung dari ada atau tidaknya materi. Buku-buku dan alat tulis yang pernah kita kirimkan kesana ternyata memang sangat berguna bagi mereka. Untuk pelajaran menggambar, setiap anak dibagikan masing-masing 1 kertas buram dan pinsil warna yang jumlahnya terbatas. Karena pinsil warna tersebut dibagian dari depan, siswa yg duduk di depan dapat ‘menguasai’ banyak warna, dan yang di belakang terpaksa mengalah.

Pk 9.30 Saatnya istirahat dan bermain.. Di halaman sekolah, terdapat sebuah taman bermain kecil yang mencakup 5 buah ayunan (terbuat dari tiang besi dan bangku kayu) dan sebuah papan seluncuran (terbuat dari beton di atas susunan batu bata yang disusun, kemudian di cor).

Selain itu, mereka memiliki sebuah kotak mainan, sumbangan dari donatur di Surabaya, yang berisi mainan-mainan sederhana, seperti bola-bola plastik, boneka, dan robot-robotan. Walaupun boneka-boneka tersebut sudah terlihat kumal, robot-robotannya sudah tidak mempunyai tangan atau kaki, atau keempat ban dari mobil-mobilan mereka sudah tidak ada, hal ini sama sekali tidak mengurangi daya imajinasi dan kreatifitas mereka.

Pk 10.00 Waktunya minum susu!!! Mungkin inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu setiap harinya. Setiap jam 10 pagi, susu hasil sumbangan dana dari teman-teman donatur dibagikan kepada murid-murid PAUD. Setelah minum susu dan menyantap bekal masing-masing dengan lahapnya, sekolah untuk hari itu pun berakhir dan mereka menunggu orang tua masing-masing untuk datang menjemput. Sehubungan dengan kisah di awal tadi, banyak dari mereka yang diantar-jemput oleh tetangganya. Kami sempat bingung ketika melihat ada 5 anak yang dijemput oleh satu orang, dengan mengendarai 1 sepeda motor.

Yah, seperti itulah kehidupan sehari-hari anak-anak PAUD Maria Gunung Karmel. Kami sangat terharu menyaksikan mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, memiliki beragam cita-cita. Betapa menyedihkannya apabila mereka harus berakhir di ladang.

Keterbatasan fasilitas belajar sama sekali tidak menjadi hambatan bagi anak-anak PAUD. Hanya saja sangat disayangkan karena masih banyak orang tua murid yang kurang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan anak-anak mereka. Hal lain yang selalu menjadi masalah adalah keadaan ekonomi keluarga mereka. Uang sekolah Rp 10,000 / bulan saja masih dirasakan sulit untuk banyak orang tua murid. Padahal uang sekolah ini dirasa perlu untuk memberikan rasa tanggung jawab kepada para orang tua, dan sekaligus juga untuk menyediakan perlengkapan belajar-mengajar.

Melihat hal ini, kami semakin terinspirasi untuk terus membantu perkembangan PAUD Maria Gunung Karmel, dengan menyalurkan sumbangan dari teman-teman donatur untuk peningkatan gizi anak-anak dan pengadaan fasilitas belajar. Salam hangat dari anak-anak dan staf PAUD!

Mario dan Albert.

Walaupun mereka tidak ‘kekurangan gizi’ seburuk yang kubayangkan, namun bisa membantu sesame itu benar-benar sebuah anugerah, dan saya bersyukur bisa melihat tawa riang anak-anak. Tak ada penyesalan, hanya kegembiraan dan kebahagiaan yang kurasakan sekarang, dan mensyukuri kehidupan ini”

Aureine bersama anak-anak PAUD.

Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak PAUD. Mereka sangat lucu dan lincah. Ketika disuruh menyanyi maju ke depan, semua berebut ingin mendapat giliran. Ketika ditanya, semua anak berteriak menjawab. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!Aureine: Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD. Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

foto Au: foto au.jpg>

Aureine: Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD. Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

Albert: Walaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang mereka

Elsa: Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

Elsa: Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

foto Au: foto au.jpg>

Aureine: Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD. Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

Albert: Walaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang mereka

Elsa: Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

Walaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang merekaWalaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang merekaWalaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang mereka

Elsa bersama anak-anak PAUD.

Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak ini sangat berpotensi. Mereka memiliki beragam cita-cita. Betapa menyedihkannya apabila mereka harus berakhir di ladang Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

Maumere setelah satu tahun

Semenjak kepergian saya ke Maumere 1 tahun yang lalu, alam Flores yang masih 'membumi' terus memanggil manggil saya untuk kembali mengunjungi pulau ini.
Begitu saya tiba di Maumere, saya merasa ini lah rumah ketiga bagi saya. (Jakarta yang pertama, Melbourne yang kedua ^_^)


Saya sangat banyak mendapat pelajaran berharga dari perjalanan ini. Yaitu pelajaran untuk menghargai kehidupan dan mensyukurinya di dalam keadaan kekurangan sekalipun.

Saya dan mereka pada dasarnya sama, sama-sama hidup dalam kemiskinan namun dalam bentuk yang berbeda. Mungkin mereka miskin beruntung dalam hal ekonomi, tapi secara spiritual mereka jauh lebih kaya dari saya.


Ketika kami tiba di Maumere, cuaca sedikit sejuk dikarenakan hujan. Saya masih ingat dengan jelas kondisi Maumere pada kunjungan pertama saya pada akhir tahun 2006 yang lalu. Waktu itu, udara sangatlah panas, sungai-sungai kering dan dapat terlihat kondisi tanah yang merekah karena kemarau berkepanjangan. Kali ini, pemandangan yang saya lihat sedikit berbeda. Lebih hijau dan lebih berair. Dimana-mana dapat terlihat kebun jagung yang berumur satu-dua bulan. Kalau curah hujan tetap tinggi untuk beberapa minggu (atau bulan) ke depan, tanaman itu dapat segera berbunga dan kemudian menghasilkan panen. Dulu, kebun-kebun jagung itu hanyalah merupakan lahan kosong yang kering.

Perjalanan dari bandara menuju biara Karmel, tempat dimana kami menginap, memakan waktu sekitar 20 menit, melalui pusat
kota Maumere yang sudah banyak terjadi pembangunan dimana-mana dalam satu tahun terakhir. Sudah ada
sebuah 'mall' (jangan bayangkan gedung 3-5 lantai yang mewah nan megah seperti mall-mall di Jakarta) yang terlihat lumayan OK, namun kosong tidak ada pengunjung karena pada dasarnya penduduk setempat tidak memiliki daya beli.

Di tengah perjalanan, saya sempat menengok sebuah sungai besar yang melintasi kota Maumere, yang tahun lalu tidak berair sama sekali (lihat foto di samping). Ternyata di sana sudah dapat terlihat sedikit aliran air walaupun masih tergolong sedikit sekali karena masih ada timbunan tanah di badan sungai tersebut yang menjadi tempat untuk kambing merumput. Perjalanan menuju biara tidak terasa karena saya terkesima melihat banyak pemandangan baru semenjak kunjungan saya sebelumnya.

Perjalanan ke Flores selalu memberi makna tersendiri bagi saya. Kali ini, saya mendapat kesempatan untuk "bermain bersama anak-anak PAUD", dan juga melihat 'the real' Flores yaitu ketika saya ke Bajawa (6-8 jam dari kota Maumere dengan kendaraan melalui jalan pegunungan yang berliku-liku). Pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya selama hidup saya, dan yang akan selalu terekam dalam pikiran saya.

Sebenarnya, tidak hanya pemandangan alam, pegunungan, sawah, danau, taman laut, air terjun, dan pemandian mata air panas saja yang memikat saya. Melainkan, adalah berkenalan dengan penduduk setempat yang bersahabat, ikut merasakan hidup mereka yang sederhana, terlepas dari kebisingan kota, memberikan saya sebuah perasaan kagum, salut, dan juga malu terhadap diri sendiri.

Di tengah kesederhanaan mereka, mereka tidak mengeluh, mereka hidup apa adanya dan tidak pernah merasa "terlalu sibuk" untuk meluangkan waktu beribadah.
Menjadi sebuah hal yang biasa bagi mereka, memakan beras 'raskin' - beras miskin - yang capnya saja sudah tidak enak didengar oleh telinga.

Ketika saya tanya seorang bapak "apakah beras masih sulit didapat?" jawabnya, "yaah,... kami mendapat jatah raskin yang biasanya sudah habis sebelum jatah berikutnya tiba." dengan nada bicara yang 'biasa' dan senyuman.

Ketika bermain dengan anak-anak PAUD, lagi-lagi saya terenyuh melihat mereka yang dengan riang gembira, tanpa beban, datang ke sekolah dengan sepatu yang sol-nya sudah tidak ada. Di sekolah pun, mainan bekas yang menurut saya tampak usang pun menjadi sangat berarti bagi mereka.


Pengalaman ini mengajarkan saya banyak hal, terutama menunjukkan saya indahnya sisi lain dari kehidupan yang tidak serba komersil, dan
memberi saya semangat baru untuk kembali melanjutkan kesibukan saya di Melbourne. Saya merasa apa yang saya punya ini memang selayaknya dibagikan untuk mereka yang lebih membutuhkan.

Apa yang dapat saya kerjakan adalah bagian saya, apa yang mereka kerjakan adalah bagian mereka, dan bersama-sama kami adalah satu karena kami saling melengkapi.

Perjalanan ke Flores (2 -7 Feb'08), by Aureine

Kalau saya harus menjawab pertanyaan apa kesan dari liburan di Flores kali ini? Liburan yang berbeda…tentu saja. Pemandangan alam yang luar biasa…ini pasti. Tapi dari semuanya, saya menyadari betapa beruntung dan berlimpahnya diri saya.

Tidak pernah terpikir sewaktu saya sekolah dulu, "akan makan apa hari ini?" karena semuanya sudah disiapkan dengan lengkap di kotak makanan oleh ibu.
Tidak pernah juga aku terpikir, "apa besok aku masih tetap bisa ke sekolah?"...

Dan yang terkakhir, liburan ini juga membuka mata saya, bahwa masih banyak adik-adik kita yang harus berjuang keras untuk mendapat pendidikan. Saya juga disadarkan kembali untuk tidak menyia-nyiakan apa yang kami punya. Bahwa apa yang kita miliki, sekecil apa pun itu, sesederhana apa pun itu, dapat kita bagi dan menjadi berguna untuk orang lain.

Jumlah mobil yang bisa dihitung dengan jari – inilah kesan pertama yang didapat setelah 5 menit pertama dalam perjalanan dari airport Maumere ke Biara Karmel, tempat kami menginap.
Tentunya setelah itu saya mulai menikmati pemandangan-pemandangan yang jarang kulihat; bukan
gedung-gedung berhimpitan dan menjulang seperti di Jakarta, dan bukan juga padang rumput luas seperti ketika bepergian keluar dari kota Melbourne.

Petak-petak rumah yang berjauhan satu sama lain, diselingi sesekali sebuah gedung dengan halaman luas (yang ternyata adalah kantor pemerintah, sekolah, puskesmas, atau kantor lainnya selain tempat tinggal) menjadi pemandangan biasa. Dan juga, tidak asing lagi adalah sungai kering yang tidak mengalir dan ladang-ladang jagung di kanan kiri jalan. Oooo…..mungkin ini yah perasaan orang desa ke kota besar? Hanya ini kebalikannya, dari kota besar ke desa. Dan saya tersenyum sendiri mengingat “keudikan” saya.

Katanya belakangan ini panas melanda Maumere, tapi sore itu awan mendung dan memberi kesejukan. Setelah beberapa hari nantinya di sini, ternyata walaupun musim hujan, siang hari tetap terasa terik, dan sore hari hujan mengguyur turun. Hujan yang turun hari ini, seolah-olah terhapus keesokan harinya oleh panasnya matahari. Katanya, musim hujan tahun ini pun sudah jauh lebih baik daripada tahun lalu yang kering teramat sangat kerontang (artinya saya banyak melihat kebun jagung,padahal sebelumnya tanah di kebun-kebun itu kering dan merekah akibat musim kemarau panjang).

Wah….seandainya air-air dari banjir di Jakarta bisa ditransfer ke sini…


Mengunjungi PAUD Maria Gunung Karmel


Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD.
Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Ketika disuruh menyanyi maju ke depan, semua berebut ingin mendapat giliran. Baris-berbaris pun mereka sangat bersemangat. Tidak takut panas dan terik. Ketika ditanya, semua anak berteriak menjawab. Lucu sekali, benar-benar polos! Mereka sama sekali tidak terlihat sedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

Setelah berbincang-bincang dengan
Pak Petrus, Kepala Sekolah PAUD Maria Gunung Karmel (kami memanggilnya Petu Ama), kami mengetahui kalau orang tua dari murid-murid ini sebagian besar adalah petani dan buruh. Sering orang tua melupakan anaknya ketika sedang sibuk bekerja, sehingga tidak ada waktu untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Amat sangat disayangkan!

Masalah lain tentu saja tidak lain keadaan ekonomi mereka. Rp 10,000 uang sekolah / bulan yang mulai diterapkan tahun ini masih dirasakan sulit untuk sebagian keluarga. Uang sekolah ini dirasakan perlu oleh pihak pengelola untuk tujuan administrasi sekolah dan membantu menyediakan peralatan dan perlengkapan kegiatan belajar-mengajar.

Lalu saya mulai membayangkan pengeluaran saya sehari-hari. Untuk membeli kopi saja, saya mengeluarkan Rp 18,000 (satu cangkir kopi panas) sampai Rp 35,000. Betapa berharganya kopi saya, karena dengan satu kali minum kopi itu saja, saya bisa membiayai satu bulan uang sekolah seorang anak. Dengan 12 kopi yang saya minum - yang saya yakin dalam dua atau tiga bulan, atau mungkin saja lebih cepat dari itu, konsumsi kopi saya bisa mencapai 12 gelas kopi – saya bisa membiayai sekolah seorang anak untuk satu tahun.

Kamar kami di biara cukup nyaman dan bersih, walaupun sederhana. Tempat tidur dengan kasur busa yang sederhana, dilengkapi dengan kelambu (yang sudah berlubang di sudut2nya) dan kipas angin. Tentu saja sahabat setia kami adalah Baygon dan Autan, Kami lebih memilih ini, dibandingkan harus “bersahabat” dengan nyamuk-nyamuk yang cukup ganas.

Lalu di pagi hari, sebisa mungkin kami menyempatkan mengikuti misa pagi di kapela. Mungkin memang suasana mendukung, ya, rasanya berdoa lebih tenang dan khusyuk. Waktu luang kami sehari-hari diisi dengan membaca atau sibuk mencuci pakaian di siang hari (di sana, semua orang, bahkan anjing-anjing yang ada di biara pun, tidur siang!), atau berbincang-bincang dengan frater, Romo, Bruder, dan penghuni biara lainnya.


Mengesankan sekali kalau mendengar cerita-cerita dan inspirasi mereka. Begitu berharganya panggilan yang mereka terima. Di samping dedikasi mereka kepada Gereja dan umat, ternyata Romo, Bruder, maupun Suster-Suster ini seperti kami saja. Cukup santai dan penuh canda. Cerita-cerita lucu pengalaman mereka pun senantiasa mengalir ketika kami asyik berbincang-bincang.

Keindahan Flores

Pengalaman yang tak kalah menariknya tentu saja pemandangan alam yang sangat mengesankan. Mengutip kata Albert, hobby-hobby kami, membawa kami ke tempat yang meninggalkan kesan tak terlupakan. Perjalanan ke tengah laut yang ditempuh dengan kapal kayu. Air laut yang amat sangat jernih, transparan hingga kami bisa melihat karang-karang di bawahnya.

Kami sempat mengunjungi Danau Kelimutu, dengan 3 kawahnya yang berbeda warna, yang
sebelumnya hanya kami lihat di televisi. Mengagumkan! Ditambah dengan pemandangan hutan yang sampai sekarang pun masih tertangkap di pikiran – hutan enau dan pohon pisang dengan gunung di belakangnya, dan sawah dan sungai di depannya – ah, sangat indah sekali!
Kami benar- benar bersyukur bisa mendapat kesempatan menikmati pemandangan seperti itu. (kalau Albert mengasosiasikan enau dengan moke, arak khas Flores – enau ini adalah bahan mentah moke. Selain itu, batang enau ini juga sering dijadikan bahan pangan oleh penduduk ketika mereka mengalami rawan pangan).



Malam terakhir di Maumere, kami habiskan dengan makan malam di “rumah” Petu Ama. Saya sudah mendengar cerita Romo Paskal tentang orang-orang beramai-ramai menggotong "rumah" Petu Ama.
Pernahkah menanggapi sebuah cerita yang sebenarnya tidak kita terlalu mengerti, kita hanya menjawab dengan senyuman kosong dan ooooo….yang panjang? Itulah yang saya lakukan menanggapi cerita itu waktu itu, karena tidak bisa membayangkan sampai saya melihat sendiri seperti apa "rumah" yang dimaksud tersebut..

Tentu saja, tidak terbayang di pikiran, kalau ternyata itu adalah sebuah gubug bambu. Bambu-bambu itu diikat dan disusun sehingga menjadi sepetak rumah yang terbagi menjadi tiga ruangan. Ruang tengah berisi meja kursi plastik, digunakan sebagai ruang tamu sekaligus ruang duduk, lalu di sebelahnya terdapat ruang tidur yang dipisahkan dengan kain, dan ruang belakang yang digunakan untuk dapur, lagi-lagi dipisahkan dengan kain. Amat sangat mengesankan!

Saya mendeskripsikan ini bukan dengan maksud merendahkan, tapi saya amat sangat terkesan karena dengan semua kesederhanaan ini, Petu Ama menyambut kami dengan keramahan dan makanan yang disajikan pun tak kalah nikmatnya. Juga yang lebih mengesankan lagi adalah Petu Ama ini adalah salah satu orang yang peduli dengan lingkungannya, peduli dengan nasib-nasib anak muda (yang putus sekolah) di kampungnya, peduli bahwa pendidikanlah yang bisa merubah nasib anak-anak di kampungnya.

Liburan kali ini bisa dibilang adalah liburan yang paling berkesan untuk saya; amat sangat sederhana. Tapi justru kesederhanaan itulah yang menumbuhkan kesan yang amat sangat mendalam.

Perjalanan ke Flores (28 Jan - 1 Feb 2008), by Albert


Flores seperti apa sih? Mengapa banyak berita yang mengatakan kalau Flores dan Indonesia bagian Timur itu kesejahteraannya sangat rendah, masih banyak kemiskinan, kelaparan, kurang gizi dan sebagainya. Tingkat pendidikan juga masih sangat rendah. Apakah ini salah pemerintah? Salah alam dan lingkungan? Atau kesalahan masyarakat sendiri yang tidak belajar dari kesalahan masa lalu?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong aku untuk mencari tahu lebih jauh tentang kehidupan masyarakat di Indonesia Timur, atau pelosok lah kalo orang kota bilang. Keputusan untuk pergi bukan sekedar ingin tahu sih, tapi karena kebutuhan akan sebuah ‘liburan’ dari kejenuhan hidup yang sudah memuncak.

Hari yang dinanti tiba: 28 Januari 2008. Saatnya liburan dimulai. Kami pergi ke Flores 3 orang, saya berangkat dengan Elsa, dan satu org lagi teman kami (Aureine) datang menyusul kemudian. Hari yang mendebarkan, saya dan Elsa berangkat ke Flores dengan dengan segala ketidaksiapan, mulai dari tidur hanya 3 jam, sampai salah terminal…

Part 1: Jakarta - Maumere

Pesawat kami dari Jakarta berangkat pk 6.10 pagi, rencananya saya akan berangkat sama-sama Elsa dari rumahnya pk 3.30. Saya tiba di rumah Elsa pk 3.10, tapi ternyata tuan rumah belum bangun!!! Dengan sejuta alarm, misscall, gedoran pintu dan panggilan, akhirnya sang putri bangun dari tidurnya…

Perjalanan dimulai dengan keberangkatan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Begitu sampai, dengan yakinnya si pembeli tiket (SAYA) berpikir bahwa Merpati ada di terminal. Untungnya secepat kilat taksi lewat, lalu kami naik taksi ke terminal 2.

Di Terminal 2. Semuanya lancar, malahan kami sempat duduk-duduk santai sambil mengatur nafas setelah mengalami sedikit ketegangan. Ketika kami mau boarding, ternyata pisau lipat tidak boleh dibawa ke dalam kabin, dan ini menyebabkan saya harus berlari kembali ke check-in counter. Tapi karena ini, perjalanan jadi terasa lebih seru…

Pk 13.10. pesawat yang harusnya sudah take off ternyata belum boarding… Tidak lama, kami mendengar pengumuman: waktunya boarding. Tujuan pertama: WAINGAPU… WHERE ON EARTH IS WAINGAPU? Kami tidak tahu Waingapu itu dimana.. Elsa sempat berpikir itu di Irian. Logika dan nalar pun bekerja.. masa rutenya dari denpasar, ke irian dulu baru maumere? Mana mungkin sih?!? Dan benar saja, setelah memberanikan diri meminjam peta milik salah seorang turis dari Perancis, ternyata Waingapu ada di Sumba Barat… untung kita ga jadi stranded… ;p

Setelah kurang lebih 3 ½ jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Maumere, dan dijemput oleh romo Paskal di airport Maumere. Thank God J Perjalanan selanjutnya, adalah dari airport menuju biara karmel di Wairklau, yang letaknya tidak begitu jauh, kurang lebih memakan waktu 20 menit dengan kendaraan.

Part 2: Di Flores

Selasa, 29 Januari 2008. Saatnya bertemu anak-anak PAUD yang selama ini berusaha kami bantu pendidikannya.. seperti apa sih mereka? Benarkah mereka se’kurus’ seperti yang selama ini kubayangkan?

Ternyata tidak juga. Mereka terlihat riang, gembira, cukup sehat, dan pastinya tidak sekurus yang ada di bayanganku.. Lalu mengapa aku harus membantu mereka? Sempat terpikir kalau yang aku lakukan selama ini kok beda ya dengan idealismeku? Namun pikiran itu harus kuhilangkan dulu untuk sejenak sampai aku melihat keadaan yang sebenarnya.

Cerita lengkap mengenai kegiatan kami bersama anak-anak PAUD dapat dibaca di “satu hari bersama anak-anak PAUD


Hari ini kami berkeliling kota Maumere, mencari minuman dingin. Ketika bertemu, serasa menemukan air mata keabadian, (agak sedikit berlebihan sih, namun jika matahari sudah berada di atas kepala kita, apapun yang dingin akan terasa sangat nikmat). Daerah yang panas dan kering, menyebabkan keringat dan ‘hitam’ semakin lekat pada tubuhku. Kalau kau bilang Jakarta itu panas, tunggu sampai kau menginjakkan kakimu di Flores, khususnya pada musim kemarau!!! Berterimakasihlah kalau Jakarta masih diberi hujan, karena disini amat susah mendapatkan air. Berterimakasihlah Jakarta diberi banjir, bukan longsor yang kerap kali terjadi di Flores. Malam ini kau tidur dengan tenang, besok pagi satu desa hilang ditelan lumpur dan banjir.

Rabu, 30 Januari 2008. Kami diajak Romo Paskal untuk mengunjungi keluarga beliau di Bajawa, sebuah kota di sebelah Barat Maumere yang terletak cukup tinggi diatas permukaan laut. Perjalanan 8 jam dengan mobil, perjalanan yang cukup melelahkan, membosankan, dengan jalan yang sangat berliku-liku naik turun gunung. Kami yang menjadi penumpang saja lelah, apalagi Romo Paskal yang menyetir untuk kami? Hehehehe…

Setelah melewati Ende, dengan sebuah pohon kelapa di tepi pantai sebagai sebuah ‘meeting-point’ di Ende Barat, dekat dengan sebuah pom bensin, kami melihat pantai yang indah dengan bebatuan ‘biru ke-abu-abu-an’ yang berasal dari laut. Setiap harinya batuan tersebut terbawa ombak dari laut dan terdampar di pesisir pantai. Entah bagaimana caranya, setiap pagi pasti ada batu-batu baru yang datang dari laut, walaupun batu itu sudah diambil oleh penduduk sekitar.

Perjalanan yang sudah cukup lama membawa kami pada sebuah kesejukan.. hawanya dingin!!! Kabut sering terjadi disini, khususnya pada musim hujan. Tidak berapa lama kami tiba di Bajawa, tempat keluarga Romo Paskal tinggal.


Keluarga romo Paskal
Kedatangan kami disambut bak sebuah pesta, dengan masakan yang bisa kami bilang ‘mewah’ serta minuman arak ‘moke’ yang dihidangkan, suasana kekeluargaan sunggu terasa, keluarga besar kumpul menyambut kedatangan kami. N.B. moke adalah minuman khas Flores, minuman ini didapat dari penyadapan pohon Enau (semacam pohon kelapa).

Kami merasa sudah seperti keluarga. Namun satu hal yang mengganggu… jika sudah saatnya mereka berbicara dengan bahasa Lio, kami hanya bisa tersenyum dan bingung . Ada beberapa bahasa Lio yang terdengar sangat lucu:
  • Baju T-shirt : baju leher bundar
  • Baju berkerah (polo shirt) : baju leher banting
  • Baju singlet : baju ketiak
  • Sepatu kets : Sepatu gereja (ini karena dahulu mereka hanya menggunakan sepatu bila pergi ke gereja, sehingga mereka menyebutnya sepatu gereja)
Kamis, 31 Januari 2008. Kami menghabiskan hari ini dengan berkeliling kota Bajawa, dari mengunjungi Gereja terbesar disana, sampai berkeliling mengunjungi biara-biara. Ternyata disini Romo Paskal sangat dikenal, dan beliau biasa dipanggil dengan sebutan ‘Om Romo’.

Jumat, 1 Februari 2008. saatnya kembali ke Maumere, perjalanan pulang ditempuh melalui rute yang sama, waktu yang sama, kelelahan yang sama, dan pemandangan pegunungan yang masih tetap indah. Namun dengan sedikit beberapa kali persinggahan di beberapa gereja dan rumah ret-ret.

Baca cerita selanjutnya di sini...

Perjalanan ke Flores (2 - 7 Feb 2008), by Albert

Sabtu, 2 Februari 2008. Aureine (anggota team Ribbon of Love di Melbourne) datang dari Denpasar. Aureine sangat beruntung karena dia tidak terjebak banjir di Jakarta yang menyebabkan beberapa flight dari Jakarta delayed bahkan dibatalkan. Ada sebuah anomali di kota Flores. Setiap hari, antara jam 1 dan jam 3 siang, kota ini akan menjadi sangat sepi. Mayoritas penduduknya (termasuk hewan-hewan peliharaan) TIDUR SIANG!!!

Minggu, 3 Februari 2008. Kuduskanlah hari Tuhan. Tentunya kami pergi ke gereja, dilanjutkan dengan perjalanan seru untuk memuaskan hobby kami menikmati kekayaan wisata laut Flores, yang sayangnya tidak dapat kami jelaskan dengan lebih detail disini :)

Senin, 4 Februari 2008. kembali mengunjungi sekolah. Teman kami Aureine kali ini yang ingin mencoba ‘kegembiraan’ bermain dengan anak-anak di PAUD. Hari ini murid yang datang lebih banyak… kelas pun menjadi lebih sesak. Masih dengan kegiatan yang sama; berbaris, bernyanyi, berdoa, belajar di kelas, istirahat dan minum susu. Ada yang sedikit berbeda, yaitu seorang guru wanita juga hadir hari ini. Beliau adalah guru di PAUD ini. Bersuara keras dan lantang, serta pandai menyanyi, menjadikan suasana lebih meriah.

Kegiatan hari ini dilanjutkan dengan ‘nggerecokin’ Bruder Ferry, beliau adalah Bruder kepala rumah tangga di Biara Beato Dionisius tempat kami tinggal. Beliau dahulu mengenyam pendidikan perhotelan dan pernah bekerja sebagai juru masak di hotel. Yang pasti masakan beliau dijamin UUEEEEEENNNNAAAAKKKK !!! Beliau mendapatkan pesanan roll tart untuk Imlek hari kamis nanti. Tentu saja kami dengan semangatnya meminta ‘jatah’ untuk dibuatkan sebuah roll tart. Hehehehe… dan kami tidak menyesal telah melakukan itu, karena roll tartnya sangat enak sekali !!!

Selasa, 5 Februari 2008. hari ini pun kami kembali menikmati keindahan Flores dengan mengunjungi Danau Kelimutu. Kami harus berangkat subuh agar dapat melihat keindahan Danau Kelimutu sebelum tertutup kabut. Perjalanan berliku-liku menaiki dan menuruni puluhan bukit selama 4 jam membawa kami ke tempat yang pemandangannya membuat kami berdecak kagum. Setelah puas berfoto-foto dan memandangi keindahan alam di Kelimutu, kami kembali ke Maumere.


Sorenya, kami dibawa 'pesiar' (istilah mereka untuk kata 'jalan-jalan') ke Nilo, dimana terdapat sebuah patung Bunda Maria berukuran raksasa yang terdapat di atas bukit di kota Maumere (didirikan oleh Ordo Passionist). Lagi-lagi kami dibuat kagum oleh keindahan pemandangan yang bisa terlihat dari puncak bukit ini.



Rabu, 6 Februari 2008. misa pagi dilanjutkan dengan berkeliling Maumere mencari oleh-oleh untuk kami bawa pulang. Malamnya kami ‘dijamu’ Pak Petu Ama untuk makan malam di rumahnya yang sangat sederhana. Cuaca hujan dan jalanan berlumpur tidak menyurutkan niat kami untuk makan di rumah beliau. Sebuah gubug kecil sederhana terbuat dari kayu dan bambu dengan satu kamar tidur menjadi tempat tinggal beliau. Sungguh lezat ketika kami makan makanan yang dihidangkan, tak lupa dilengkapi dengan minuman moke.

Kamis, 7 Februari 2008. dengan berat hati kami meninggalkan Flores, anak-anak PAUD, dan penduduk setempat yang sederhana namun sangat bersahabat. Tapi liburan kami belum selesai… bahkan ‘perjalanan’ kami baru saja dimulai…

banyak cerita, kisah, dan kesan selama kami disana. Banyak hal yang membuat kami ingin pergi kesana lagi, tentunya bersama dengan kalian semua para donatur J kami tunggu ya…!!!