Perjalanan ke Flores (28 Jan - 1 Feb 2008), by Albert


Flores seperti apa sih? Mengapa banyak berita yang mengatakan kalau Flores dan Indonesia bagian Timur itu kesejahteraannya sangat rendah, masih banyak kemiskinan, kelaparan, kurang gizi dan sebagainya. Tingkat pendidikan juga masih sangat rendah. Apakah ini salah pemerintah? Salah alam dan lingkungan? Atau kesalahan masyarakat sendiri yang tidak belajar dari kesalahan masa lalu?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang mendorong aku untuk mencari tahu lebih jauh tentang kehidupan masyarakat di Indonesia Timur, atau pelosok lah kalo orang kota bilang. Keputusan untuk pergi bukan sekedar ingin tahu sih, tapi karena kebutuhan akan sebuah ‘liburan’ dari kejenuhan hidup yang sudah memuncak.

Hari yang dinanti tiba: 28 Januari 2008. Saatnya liburan dimulai. Kami pergi ke Flores 3 orang, saya berangkat dengan Elsa, dan satu org lagi teman kami (Aureine) datang menyusul kemudian. Hari yang mendebarkan, saya dan Elsa berangkat ke Flores dengan dengan segala ketidaksiapan, mulai dari tidur hanya 3 jam, sampai salah terminal…

Part 1: Jakarta - Maumere

Pesawat kami dari Jakarta berangkat pk 6.10 pagi, rencananya saya akan berangkat sama-sama Elsa dari rumahnya pk 3.30. Saya tiba di rumah Elsa pk 3.10, tapi ternyata tuan rumah belum bangun!!! Dengan sejuta alarm, misscall, gedoran pintu dan panggilan, akhirnya sang putri bangun dari tidurnya…

Perjalanan dimulai dengan keberangkatan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Begitu sampai, dengan yakinnya si pembeli tiket (SAYA) berpikir bahwa Merpati ada di terminal. Untungnya secepat kilat taksi lewat, lalu kami naik taksi ke terminal 2.

Di Terminal 2. Semuanya lancar, malahan kami sempat duduk-duduk santai sambil mengatur nafas setelah mengalami sedikit ketegangan. Ketika kami mau boarding, ternyata pisau lipat tidak boleh dibawa ke dalam kabin, dan ini menyebabkan saya harus berlari kembali ke check-in counter. Tapi karena ini, perjalanan jadi terasa lebih seru…

Pk 13.10. pesawat yang harusnya sudah take off ternyata belum boarding… Tidak lama, kami mendengar pengumuman: waktunya boarding. Tujuan pertama: WAINGAPU… WHERE ON EARTH IS WAINGAPU? Kami tidak tahu Waingapu itu dimana.. Elsa sempat berpikir itu di Irian. Logika dan nalar pun bekerja.. masa rutenya dari denpasar, ke irian dulu baru maumere? Mana mungkin sih?!? Dan benar saja, setelah memberanikan diri meminjam peta milik salah seorang turis dari Perancis, ternyata Waingapu ada di Sumba Barat… untung kita ga jadi stranded… ;p

Setelah kurang lebih 3 ½ jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Maumere, dan dijemput oleh romo Paskal di airport Maumere. Thank God J Perjalanan selanjutnya, adalah dari airport menuju biara karmel di Wairklau, yang letaknya tidak begitu jauh, kurang lebih memakan waktu 20 menit dengan kendaraan.

Part 2: Di Flores

Selasa, 29 Januari 2008. Saatnya bertemu anak-anak PAUD yang selama ini berusaha kami bantu pendidikannya.. seperti apa sih mereka? Benarkah mereka se’kurus’ seperti yang selama ini kubayangkan?

Ternyata tidak juga. Mereka terlihat riang, gembira, cukup sehat, dan pastinya tidak sekurus yang ada di bayanganku.. Lalu mengapa aku harus membantu mereka? Sempat terpikir kalau yang aku lakukan selama ini kok beda ya dengan idealismeku? Namun pikiran itu harus kuhilangkan dulu untuk sejenak sampai aku melihat keadaan yang sebenarnya.

Cerita lengkap mengenai kegiatan kami bersama anak-anak PAUD dapat dibaca di “satu hari bersama anak-anak PAUD


Hari ini kami berkeliling kota Maumere, mencari minuman dingin. Ketika bertemu, serasa menemukan air mata keabadian, (agak sedikit berlebihan sih, namun jika matahari sudah berada di atas kepala kita, apapun yang dingin akan terasa sangat nikmat). Daerah yang panas dan kering, menyebabkan keringat dan ‘hitam’ semakin lekat pada tubuhku. Kalau kau bilang Jakarta itu panas, tunggu sampai kau menginjakkan kakimu di Flores, khususnya pada musim kemarau!!! Berterimakasihlah kalau Jakarta masih diberi hujan, karena disini amat susah mendapatkan air. Berterimakasihlah Jakarta diberi banjir, bukan longsor yang kerap kali terjadi di Flores. Malam ini kau tidur dengan tenang, besok pagi satu desa hilang ditelan lumpur dan banjir.

Rabu, 30 Januari 2008. Kami diajak Romo Paskal untuk mengunjungi keluarga beliau di Bajawa, sebuah kota di sebelah Barat Maumere yang terletak cukup tinggi diatas permukaan laut. Perjalanan 8 jam dengan mobil, perjalanan yang cukup melelahkan, membosankan, dengan jalan yang sangat berliku-liku naik turun gunung. Kami yang menjadi penumpang saja lelah, apalagi Romo Paskal yang menyetir untuk kami? Hehehehe…

Setelah melewati Ende, dengan sebuah pohon kelapa di tepi pantai sebagai sebuah ‘meeting-point’ di Ende Barat, dekat dengan sebuah pom bensin, kami melihat pantai yang indah dengan bebatuan ‘biru ke-abu-abu-an’ yang berasal dari laut. Setiap harinya batuan tersebut terbawa ombak dari laut dan terdampar di pesisir pantai. Entah bagaimana caranya, setiap pagi pasti ada batu-batu baru yang datang dari laut, walaupun batu itu sudah diambil oleh penduduk sekitar.

Perjalanan yang sudah cukup lama membawa kami pada sebuah kesejukan.. hawanya dingin!!! Kabut sering terjadi disini, khususnya pada musim hujan. Tidak berapa lama kami tiba di Bajawa, tempat keluarga Romo Paskal tinggal.


Keluarga romo Paskal
Kedatangan kami disambut bak sebuah pesta, dengan masakan yang bisa kami bilang ‘mewah’ serta minuman arak ‘moke’ yang dihidangkan, suasana kekeluargaan sunggu terasa, keluarga besar kumpul menyambut kedatangan kami. N.B. moke adalah minuman khas Flores, minuman ini didapat dari penyadapan pohon Enau (semacam pohon kelapa).

Kami merasa sudah seperti keluarga. Namun satu hal yang mengganggu… jika sudah saatnya mereka berbicara dengan bahasa Lio, kami hanya bisa tersenyum dan bingung . Ada beberapa bahasa Lio yang terdengar sangat lucu:
  • Baju T-shirt : baju leher bundar
  • Baju berkerah (polo shirt) : baju leher banting
  • Baju singlet : baju ketiak
  • Sepatu kets : Sepatu gereja (ini karena dahulu mereka hanya menggunakan sepatu bila pergi ke gereja, sehingga mereka menyebutnya sepatu gereja)
Kamis, 31 Januari 2008. Kami menghabiskan hari ini dengan berkeliling kota Bajawa, dari mengunjungi Gereja terbesar disana, sampai berkeliling mengunjungi biara-biara. Ternyata disini Romo Paskal sangat dikenal, dan beliau biasa dipanggil dengan sebutan ‘Om Romo’.

Jumat, 1 Februari 2008. saatnya kembali ke Maumere, perjalanan pulang ditempuh melalui rute yang sama, waktu yang sama, kelelahan yang sama, dan pemandangan pegunungan yang masih tetap indah. Namun dengan sedikit beberapa kali persinggahan di beberapa gereja dan rumah ret-ret.

Baca cerita selanjutnya di sini...

3 comments:

Scal said...

Ahhhhh... I miss those Bajawa part...... pffff.......

Albertus said...

sa, gue protes!!! kok bagian factor X nya diapus?!?!?!?!?!

Anonymous said...

heheheheh
...
ayo ikutt lagi Benn next time

Ebe: factor X apa ? =P