Perjalanan ke Flores (2 -7 Feb'08), by Aureine

Kalau saya harus menjawab pertanyaan apa kesan dari liburan di Flores kali ini? Liburan yang berbeda…tentu saja. Pemandangan alam yang luar biasa…ini pasti. Tapi dari semuanya, saya menyadari betapa beruntung dan berlimpahnya diri saya.

Tidak pernah terpikir sewaktu saya sekolah dulu, "akan makan apa hari ini?" karena semuanya sudah disiapkan dengan lengkap di kotak makanan oleh ibu.
Tidak pernah juga aku terpikir, "apa besok aku masih tetap bisa ke sekolah?"...

Dan yang terkakhir, liburan ini juga membuka mata saya, bahwa masih banyak adik-adik kita yang harus berjuang keras untuk mendapat pendidikan. Saya juga disadarkan kembali untuk tidak menyia-nyiakan apa yang kami punya. Bahwa apa yang kita miliki, sekecil apa pun itu, sesederhana apa pun itu, dapat kita bagi dan menjadi berguna untuk orang lain.

Jumlah mobil yang bisa dihitung dengan jari – inilah kesan pertama yang didapat setelah 5 menit pertama dalam perjalanan dari airport Maumere ke Biara Karmel, tempat kami menginap.
Tentunya setelah itu saya mulai menikmati pemandangan-pemandangan yang jarang kulihat; bukan
gedung-gedung berhimpitan dan menjulang seperti di Jakarta, dan bukan juga padang rumput luas seperti ketika bepergian keluar dari kota Melbourne.

Petak-petak rumah yang berjauhan satu sama lain, diselingi sesekali sebuah gedung dengan halaman luas (yang ternyata adalah kantor pemerintah, sekolah, puskesmas, atau kantor lainnya selain tempat tinggal) menjadi pemandangan biasa. Dan juga, tidak asing lagi adalah sungai kering yang tidak mengalir dan ladang-ladang jagung di kanan kiri jalan. Oooo…..mungkin ini yah perasaan orang desa ke kota besar? Hanya ini kebalikannya, dari kota besar ke desa. Dan saya tersenyum sendiri mengingat “keudikan” saya.

Katanya belakangan ini panas melanda Maumere, tapi sore itu awan mendung dan memberi kesejukan. Setelah beberapa hari nantinya di sini, ternyata walaupun musim hujan, siang hari tetap terasa terik, dan sore hari hujan mengguyur turun. Hujan yang turun hari ini, seolah-olah terhapus keesokan harinya oleh panasnya matahari. Katanya, musim hujan tahun ini pun sudah jauh lebih baik daripada tahun lalu yang kering teramat sangat kerontang (artinya saya banyak melihat kebun jagung,padahal sebelumnya tanah di kebun-kebun itu kering dan merekah akibat musim kemarau panjang).

Wah….seandainya air-air dari banjir di Jakarta bisa ditransfer ke sini…


Mengunjungi PAUD Maria Gunung Karmel


Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD.
Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Ketika disuruh menyanyi maju ke depan, semua berebut ingin mendapat giliran. Baris-berbaris pun mereka sangat bersemangat. Tidak takut panas dan terik. Ketika ditanya, semua anak berteriak menjawab. Lucu sekali, benar-benar polos! Mereka sama sekali tidak terlihat sedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

Setelah berbincang-bincang dengan
Pak Petrus, Kepala Sekolah PAUD Maria Gunung Karmel (kami memanggilnya Petu Ama), kami mengetahui kalau orang tua dari murid-murid ini sebagian besar adalah petani dan buruh. Sering orang tua melupakan anaknya ketika sedang sibuk bekerja, sehingga tidak ada waktu untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Amat sangat disayangkan!

Masalah lain tentu saja tidak lain keadaan ekonomi mereka. Rp 10,000 uang sekolah / bulan yang mulai diterapkan tahun ini masih dirasakan sulit untuk sebagian keluarga. Uang sekolah ini dirasakan perlu oleh pihak pengelola untuk tujuan administrasi sekolah dan membantu menyediakan peralatan dan perlengkapan kegiatan belajar-mengajar.

Lalu saya mulai membayangkan pengeluaran saya sehari-hari. Untuk membeli kopi saja, saya mengeluarkan Rp 18,000 (satu cangkir kopi panas) sampai Rp 35,000. Betapa berharganya kopi saya, karena dengan satu kali minum kopi itu saja, saya bisa membiayai satu bulan uang sekolah seorang anak. Dengan 12 kopi yang saya minum - yang saya yakin dalam dua atau tiga bulan, atau mungkin saja lebih cepat dari itu, konsumsi kopi saya bisa mencapai 12 gelas kopi – saya bisa membiayai sekolah seorang anak untuk satu tahun.

Kamar kami di biara cukup nyaman dan bersih, walaupun sederhana. Tempat tidur dengan kasur busa yang sederhana, dilengkapi dengan kelambu (yang sudah berlubang di sudut2nya) dan kipas angin. Tentu saja sahabat setia kami adalah Baygon dan Autan, Kami lebih memilih ini, dibandingkan harus “bersahabat” dengan nyamuk-nyamuk yang cukup ganas.

Lalu di pagi hari, sebisa mungkin kami menyempatkan mengikuti misa pagi di kapela. Mungkin memang suasana mendukung, ya, rasanya berdoa lebih tenang dan khusyuk. Waktu luang kami sehari-hari diisi dengan membaca atau sibuk mencuci pakaian di siang hari (di sana, semua orang, bahkan anjing-anjing yang ada di biara pun, tidur siang!), atau berbincang-bincang dengan frater, Romo, Bruder, dan penghuni biara lainnya.


Mengesankan sekali kalau mendengar cerita-cerita dan inspirasi mereka. Begitu berharganya panggilan yang mereka terima. Di samping dedikasi mereka kepada Gereja dan umat, ternyata Romo, Bruder, maupun Suster-Suster ini seperti kami saja. Cukup santai dan penuh canda. Cerita-cerita lucu pengalaman mereka pun senantiasa mengalir ketika kami asyik berbincang-bincang.

Keindahan Flores

Pengalaman yang tak kalah menariknya tentu saja pemandangan alam yang sangat mengesankan. Mengutip kata Albert, hobby-hobby kami, membawa kami ke tempat yang meninggalkan kesan tak terlupakan. Perjalanan ke tengah laut yang ditempuh dengan kapal kayu. Air laut yang amat sangat jernih, transparan hingga kami bisa melihat karang-karang di bawahnya.

Kami sempat mengunjungi Danau Kelimutu, dengan 3 kawahnya yang berbeda warna, yang
sebelumnya hanya kami lihat di televisi. Mengagumkan! Ditambah dengan pemandangan hutan yang sampai sekarang pun masih tertangkap di pikiran – hutan enau dan pohon pisang dengan gunung di belakangnya, dan sawah dan sungai di depannya – ah, sangat indah sekali!
Kami benar- benar bersyukur bisa mendapat kesempatan menikmati pemandangan seperti itu. (kalau Albert mengasosiasikan enau dengan moke, arak khas Flores – enau ini adalah bahan mentah moke. Selain itu, batang enau ini juga sering dijadikan bahan pangan oleh penduduk ketika mereka mengalami rawan pangan).



Malam terakhir di Maumere, kami habiskan dengan makan malam di “rumah” Petu Ama. Saya sudah mendengar cerita Romo Paskal tentang orang-orang beramai-ramai menggotong "rumah" Petu Ama.
Pernahkah menanggapi sebuah cerita yang sebenarnya tidak kita terlalu mengerti, kita hanya menjawab dengan senyuman kosong dan ooooo….yang panjang? Itulah yang saya lakukan menanggapi cerita itu waktu itu, karena tidak bisa membayangkan sampai saya melihat sendiri seperti apa "rumah" yang dimaksud tersebut..

Tentu saja, tidak terbayang di pikiran, kalau ternyata itu adalah sebuah gubug bambu. Bambu-bambu itu diikat dan disusun sehingga menjadi sepetak rumah yang terbagi menjadi tiga ruangan. Ruang tengah berisi meja kursi plastik, digunakan sebagai ruang tamu sekaligus ruang duduk, lalu di sebelahnya terdapat ruang tidur yang dipisahkan dengan kain, dan ruang belakang yang digunakan untuk dapur, lagi-lagi dipisahkan dengan kain. Amat sangat mengesankan!

Saya mendeskripsikan ini bukan dengan maksud merendahkan, tapi saya amat sangat terkesan karena dengan semua kesederhanaan ini, Petu Ama menyambut kami dengan keramahan dan makanan yang disajikan pun tak kalah nikmatnya. Juga yang lebih mengesankan lagi adalah Petu Ama ini adalah salah satu orang yang peduli dengan lingkungannya, peduli dengan nasib-nasib anak muda (yang putus sekolah) di kampungnya, peduli bahwa pendidikanlah yang bisa merubah nasib anak-anak di kampungnya.

Liburan kali ini bisa dibilang adalah liburan yang paling berkesan untuk saya; amat sangat sederhana. Tapi justru kesederhanaan itulah yang menumbuhkan kesan yang amat sangat mendalam.

No comments: