SATU HARI DI PAUD MARIA GUNUNG KARMEL

Pagi itu, selasa 29 Januari 2008, waktu menunjukkan pk 8.10. Anak-anak seharusnya sudah mulai sekolah pukul 8, namun hanya 15 siswa, dari total 44 siswa, yang hadir. Setelah berkenalan dengan pak Kepala Sekolah, Pak Petrus Ama (yang akrab dipanggil dengan nama Pak Petu), ternyata salah satu masalah pendidikan di Flores (Maumere) adalah kurang sadarnya para orangtua akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka.

Pada saat musim berkebun (musim hujan) seperti sekarang ini, para orangtua sibuk bekerja di ladang. Seringkali karena sibuk bekerja, orang tua tidak lagi memiliki waktu untuk mengantar anak ke sekolah.

Pk 8.30, sekitar 25 murid yang hadir. Pak Petu membunyikan lonceng dan anak-anak dengan tertib berbaris di halaman sekolah. Mereka membentuk 2 barisan, dengan satu anak bernama Trisno memimpin barisan tersebut. Menurut Pak Petu, memang Trisno ini berbakat menjadi ketua kelas, berjiwa seorang pemimpin. Trisno dengan tegas menyiapkan barisan. “bersiap!” “beri hormat!”. Lalu anak-anak lainnya dengan serentak menjawab “seeelamaatt pagiii paaaak!

Masih di dalam barisan, aktivitas pertama hari itu adalah bernyanyi, yang mereka lakukan dengan bersemangat sekali walaupun panas matahari begitu menyengat. Mereka sempat menyanyikan mars PAUD Maria Gunung Karmel, yg inti kata-katanya “kami mau maju”, “kami anak-anak terpadu yang mau berjuang”; dan juga yel-yel mereka seperti “Anak padu! Yes!”. Mereka bisa menyanyikan lebih dari 20 lagu, mulai dari lagu anak-anak yang umum (balonku, topi saya bundar, satu tambah satu, dst), dan juga lagu-lagu yang bahkan kita belum pernah dengar sebelumnya. Sangat mengagumkan!

Kami spontan tertawa geli ketika mendengar mereka menyanyikan lagu potong bebek angsa versi Flores: Potong anjing hitam, masak enak-enak, Kalaulah belajar, jangan malas-malas. Ambillah buku, ambillah pinsil. Mari kita tulis A-I-U-E-O. Brapa huruf hidup, teman-temanku? Lima huruf hidup, A-I-U-E-O”.

Pelajaran yang diberikan kepada anak-anak berbeda dari hari ke hari. Bernyanyi, belajar membaca, atau menggambar, itu semua tergantung dari ada atau tidaknya materi. Buku-buku dan alat tulis yang pernah kita kirimkan kesana ternyata memang sangat berguna bagi mereka. Untuk pelajaran menggambar, setiap anak dibagikan masing-masing 1 kertas buram dan pinsil warna yang jumlahnya terbatas. Karena pinsil warna tersebut dibagian dari depan, siswa yg duduk di depan dapat ‘menguasai’ banyak warna, dan yang di belakang terpaksa mengalah.

Pk 9.30 Saatnya istirahat dan bermain.. Di halaman sekolah, terdapat sebuah taman bermain kecil yang mencakup 5 buah ayunan (terbuat dari tiang besi dan bangku kayu) dan sebuah papan seluncuran (terbuat dari beton di atas susunan batu bata yang disusun, kemudian di cor).

Selain itu, mereka memiliki sebuah kotak mainan, sumbangan dari donatur di Surabaya, yang berisi mainan-mainan sederhana, seperti bola-bola plastik, boneka, dan robot-robotan. Walaupun boneka-boneka tersebut sudah terlihat kumal, robot-robotannya sudah tidak mempunyai tangan atau kaki, atau keempat ban dari mobil-mobilan mereka sudah tidak ada, hal ini sama sekali tidak mengurangi daya imajinasi dan kreatifitas mereka.

Pk 10.00 Waktunya minum susu!!! Mungkin inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu setiap harinya. Setiap jam 10 pagi, susu hasil sumbangan dana dari teman-teman donatur dibagikan kepada murid-murid PAUD. Setelah minum susu dan menyantap bekal masing-masing dengan lahapnya, sekolah untuk hari itu pun berakhir dan mereka menunggu orang tua masing-masing untuk datang menjemput. Sehubungan dengan kisah di awal tadi, banyak dari mereka yang diantar-jemput oleh tetangganya. Kami sempat bingung ketika melihat ada 5 anak yang dijemput oleh satu orang, dengan mengendarai 1 sepeda motor.

Yah, seperti itulah kehidupan sehari-hari anak-anak PAUD Maria Gunung Karmel. Kami sangat terharu menyaksikan mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, memiliki beragam cita-cita. Betapa menyedihkannya apabila mereka harus berakhir di ladang.

Keterbatasan fasilitas belajar sama sekali tidak menjadi hambatan bagi anak-anak PAUD. Hanya saja sangat disayangkan karena masih banyak orang tua murid yang kurang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan anak-anak mereka. Hal lain yang selalu menjadi masalah adalah keadaan ekonomi keluarga mereka. Uang sekolah Rp 10,000 / bulan saja masih dirasakan sulit untuk banyak orang tua murid. Padahal uang sekolah ini dirasa perlu untuk memberikan rasa tanggung jawab kepada para orang tua, dan sekaligus juga untuk menyediakan perlengkapan belajar-mengajar.

Melihat hal ini, kami semakin terinspirasi untuk terus membantu perkembangan PAUD Maria Gunung Karmel, dengan menyalurkan sumbangan dari teman-teman donatur untuk peningkatan gizi anak-anak dan pengadaan fasilitas belajar. Salam hangat dari anak-anak dan staf PAUD!

Mario dan Albert.

Walaupun mereka tidak ‘kekurangan gizi’ seburuk yang kubayangkan, namun bisa membantu sesame itu benar-benar sebuah anugerah, dan saya bersyukur bisa melihat tawa riang anak-anak. Tak ada penyesalan, hanya kegembiraan dan kebahagiaan yang kurasakan sekarang, dan mensyukuri kehidupan ini”

Aureine bersama anak-anak PAUD.

Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak PAUD. Mereka sangat lucu dan lincah. Ketika disuruh menyanyi maju ke depan, semua berebut ingin mendapat giliran. Ketika ditanya, semua anak berteriak menjawab. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!Aureine: Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD. Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

foto Au: foto au.jpg>

Aureine: Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD. Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

Albert: Walaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang mereka

Elsa: Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

Elsa: Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

foto Au: foto au.jpg>

Aureine: Pengalaman yang paling mengesankan adalah bertemu dan bermain dengan anak-anak di PAUD. Anak-anak ini sangat lucu dan lincah. Lucu sekali, benar-benar polos! Sama sekali tidak terlihat bersedih, walaupun mungkin kehidupan orang tua dan keluarganya hanya seadanya. Tas yang mereka pakai mungkin pemberian dari orang lain. Sepatu pun ada yang tidak bersol dalam lagi. Cukup memiris hati melihatnya!

Albert: Walaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang mereka

Elsa: Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

Walaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang merekaWalaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang merekaWalaupun ternyata mereka tidak ‘kekurangan gizi’ separah yang kubayangkan, namun ternyata bisa membantu sesama itu merupakan sebuah anugerah, dan aku bersyukur dapat melihat tawa riang mereka

Elsa bersama anak-anak PAUD.

Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak ini sangat berpotensi. Mereka memiliki beragam cita-cita. Betapa menyedihkannya apabila mereka harus berakhir di ladang Senang sekali dapat mendengar mereka bernyanyi, melihat ekspresi wajah mereka, dan menyaksikan sendiri kesungguhan niat mereka untuk belajar. Anak-anak yang sangat berpotensi ini, seandainya tidak mendapat kesempatan untuk bersekolah, mereka akan berakhir di ladang.

1 comment:

eurika said...

memang Trisno ini berbakat menjadi ketua kelas, berjiwa seorang pemimpin > TRISNO BANGETTTT... memang pilihanku MANTAAAAAAPP hahahahaha