Maumere setelah satu tahun

Semenjak kepergian saya ke Maumere 1 tahun yang lalu, alam Flores yang masih 'membumi' terus memanggil manggil saya untuk kembali mengunjungi pulau ini.
Begitu saya tiba di Maumere, saya merasa ini lah rumah ketiga bagi saya. (Jakarta yang pertama, Melbourne yang kedua ^_^)


Saya sangat banyak mendapat pelajaran berharga dari perjalanan ini. Yaitu pelajaran untuk menghargai kehidupan dan mensyukurinya di dalam keadaan kekurangan sekalipun.

Saya dan mereka pada dasarnya sama, sama-sama hidup dalam kemiskinan namun dalam bentuk yang berbeda. Mungkin mereka miskin beruntung dalam hal ekonomi, tapi secara spiritual mereka jauh lebih kaya dari saya.


Ketika kami tiba di Maumere, cuaca sedikit sejuk dikarenakan hujan. Saya masih ingat dengan jelas kondisi Maumere pada kunjungan pertama saya pada akhir tahun 2006 yang lalu. Waktu itu, udara sangatlah panas, sungai-sungai kering dan dapat terlihat kondisi tanah yang merekah karena kemarau berkepanjangan. Kali ini, pemandangan yang saya lihat sedikit berbeda. Lebih hijau dan lebih berair. Dimana-mana dapat terlihat kebun jagung yang berumur satu-dua bulan. Kalau curah hujan tetap tinggi untuk beberapa minggu (atau bulan) ke depan, tanaman itu dapat segera berbunga dan kemudian menghasilkan panen. Dulu, kebun-kebun jagung itu hanyalah merupakan lahan kosong yang kering.

Perjalanan dari bandara menuju biara Karmel, tempat dimana kami menginap, memakan waktu sekitar 20 menit, melalui pusat
kota Maumere yang sudah banyak terjadi pembangunan dimana-mana dalam satu tahun terakhir. Sudah ada
sebuah 'mall' (jangan bayangkan gedung 3-5 lantai yang mewah nan megah seperti mall-mall di Jakarta) yang terlihat lumayan OK, namun kosong tidak ada pengunjung karena pada dasarnya penduduk setempat tidak memiliki daya beli.

Di tengah perjalanan, saya sempat menengok sebuah sungai besar yang melintasi kota Maumere, yang tahun lalu tidak berair sama sekali (lihat foto di samping). Ternyata di sana sudah dapat terlihat sedikit aliran air walaupun masih tergolong sedikit sekali karena masih ada timbunan tanah di badan sungai tersebut yang menjadi tempat untuk kambing merumput. Perjalanan menuju biara tidak terasa karena saya terkesima melihat banyak pemandangan baru semenjak kunjungan saya sebelumnya.

Perjalanan ke Flores selalu memberi makna tersendiri bagi saya. Kali ini, saya mendapat kesempatan untuk "bermain bersama anak-anak PAUD", dan juga melihat 'the real' Flores yaitu ketika saya ke Bajawa (6-8 jam dari kota Maumere dengan kendaraan melalui jalan pegunungan yang berliku-liku). Pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya selama hidup saya, dan yang akan selalu terekam dalam pikiran saya.

Sebenarnya, tidak hanya pemandangan alam, pegunungan, sawah, danau, taman laut, air terjun, dan pemandian mata air panas saja yang memikat saya. Melainkan, adalah berkenalan dengan penduduk setempat yang bersahabat, ikut merasakan hidup mereka yang sederhana, terlepas dari kebisingan kota, memberikan saya sebuah perasaan kagum, salut, dan juga malu terhadap diri sendiri.

Di tengah kesederhanaan mereka, mereka tidak mengeluh, mereka hidup apa adanya dan tidak pernah merasa "terlalu sibuk" untuk meluangkan waktu beribadah.
Menjadi sebuah hal yang biasa bagi mereka, memakan beras 'raskin' - beras miskin - yang capnya saja sudah tidak enak didengar oleh telinga.

Ketika saya tanya seorang bapak "apakah beras masih sulit didapat?" jawabnya, "yaah,... kami mendapat jatah raskin yang biasanya sudah habis sebelum jatah berikutnya tiba." dengan nada bicara yang 'biasa' dan senyuman.

Ketika bermain dengan anak-anak PAUD, lagi-lagi saya terenyuh melihat mereka yang dengan riang gembira, tanpa beban, datang ke sekolah dengan sepatu yang sol-nya sudah tidak ada. Di sekolah pun, mainan bekas yang menurut saya tampak usang pun menjadi sangat berarti bagi mereka.


Pengalaman ini mengajarkan saya banyak hal, terutama menunjukkan saya indahnya sisi lain dari kehidupan yang tidak serba komersil, dan
memberi saya semangat baru untuk kembali melanjutkan kesibukan saya di Melbourne. Saya merasa apa yang saya punya ini memang selayaknya dibagikan untuk mereka yang lebih membutuhkan.

Apa yang dapat saya kerjakan adalah bagian saya, apa yang mereka kerjakan adalah bagian mereka, dan bersama-sama kami adalah satu karena kami saling melengkapi.

No comments: